Jumat, 10 Oktober 2014

batik banyumas

Batik Banyumas memiliki sejarah yang tak lepas dari pengaruh budaya, seperti Yogyakarta dan Surakarta, maupun Pekalongan. Menurut informasi para sesepuh dan penggiat batik Banyumas, disebutkan batik Banyumas muncul, lantaran pengaruh berdirinya kademangan-kademangan di daerah Banyumas dan para pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi di daerah Banyumas.
 

 

 

 

Jarak tempun Jakarta-Banyuma: 375km

Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesainya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menetap di daerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewama dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.

 

 

Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-XIX berhubungan langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik.

Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitara daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-XIX. Perkembangan pembatikan didaerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo.

 

Batik Banyumas identik dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Warna coklat karena soga, sementara warna hitam karena wedel. Motif-motif yang berkembang sekarang ini antara lain: Sekarsurya, Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Jahe Puger, Cempaka Mulya, Kawung Jenggot, Madu Bronto, Satria Busana, Pring Sedapur, Gabah Mawur, Jagadan, Isen Laut, Udan Riris, dll.

 


 

Tentu saja, para penggiat batik Banyumas juga menghasilkan motif-motif lain dengan melakukan kombinasi, terobosan motif baru sehingga tercipta satu karakter seni lukis yang indah, misal : Mangkokan, Manukan, Sawudan Colet,  Kitiran, Rantai Kehidupan, Serat Kayu, Gringgingan, dll. Motif

 
 

 

Batik bermacam-macam dan mempunyai keunikan dan ciri khas, hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan karakter si pembuat. Karakter masyarakat ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada hasil akhir batik. Keunikan dan ciri khas batik bisa dilihat dari Motif dan Warnanya.

 

 

 

 

Bahan batik Banyumas antara lain: mori sen, dobi, sutera, paris. Batik Banyumas dibedakan dari cara pembuatannya ada dua yaitu batik cap dan batik tulis. Batik cap lebih murah dan pembuatannya lebih cepat, sedangkan batik tulis karena proses pembuatannya juga yang lebih sulit dan lama, membuat batik ini punya “kelas tersendiri”.

Beragam motif banyumas




























Batik yang menarik bukan,menyukai batik dan memakai nya dalam kehidupan kita,itu juga berarti membantu kehidupan para perajin batik.

Terimakasih kepada narasumber yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu selain kata semnagt bersama dalam melestarikan batik budaya bangsa.

Sampai bertemu di blog lainnya dan tentunya masih diseputar batik cantik warisan bangsa

Salam hangat,

Dave Tjoa

KUNJUNGI BLOG BERJUALAN BATIK LAWAS KAMI DI:batikantikbatiklawas.blogspot.com





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar