Jumat, 25 Juli 2014

batik 3 negri Tjoa,Solo

Batik tulis 3 negeri Tjoa, Solo,Jawa Tengah,bagi para pencinta batik pasti sudah mengenal batik keluaran keluarga Tjoa.Batik yang begitu populer di masa lalu hingga masa kini.Batik ini tergolong batik antik pada masa kini dan memiliki nilai seni yang tinggi.Jenis batik 3 negri memiliki ragam dan corak yang rumit, penuh dengan latar yang beragam.Kerumitan disain yang butuh waktu lama dan proses yang panjang adalah buah karya tangan-tangan yang teruji oleh waktu ,sehingga menghasilkan selembar kain yang mempesona.

Selain keluarga Tjoa,Solo,batik 3 negri bisa didapati di daerah pesisir Jawa pada khususnya seperti Cirebon,Pekalongan,Semarang,Batang,Lasem,sampai timur pulau Jawa dengan motif yang beragam.Dalam perjalanan waktu batik 3 negri lebih banyak di produksi di 3 kota seperti,Solo,Pekalongan dan Lasem.

Contoh Batik 3 Negri



batik 3 negri lasem-an


batik 3 negri pekalongan


batik 3 negri Solo
 
Berdasarkan sejarahnya, keunikan  lain dari batik ini terletak dari pewarnaannya ,yaitu di 3 tempat/lokasi yang berbeda.Kalau dipikir-pikir, kenapa juga ya... harus di 3 lokasi yang berbeda,bukankah itu suatu pemborosan waktu,biaya dan tenaga kerja.

Ternyata keunikan batik 3 negri ini memang terletak pada unsur pewarnannya,tiga negri yang dimaksud adalah bukan harus menjelajah keluar negri melainkan 3 kota yang berbeda di Jawa yaitu Solo(Surakarta),Lasem (Rembang) dan Pekalongan.Jarak satu tempat dan lainnya pun sangat jauh,bisa dibayangkan pada waktu lalu mereka harus menempuh perjalan sedemikian lamanya dan jauh untuk proses kain 3 negri

Berikut ini sekelumit sejarah Jawa Tengah di masa penjajahan belanda:

Sejarah Jawa Tengah Masa kolonial Belanda

Jawa Tengah sebagai provinsi dibentuk sejak zaman Hindia Belanda. Hingga tahun 1905, Jawa Tengah terdiri atas 5 wilayah (gewesten) yakni Semarang, Rembang, Kedu, Banyumas, dan Pekalongan. Surakarta masih merupakan daerah swapraja kerajaan (vorstenland) yang berdiri sendiri dan terdiri dari dua wilayah, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran, sebagaimana Yogyakarta.

Masing-masing gewest terdiri atas kabupaten-kabupaten. Waktu itu Rembang Gewest juga meliputi Regentschap Tuban dan Bojonegoro.Setelah diberlakukannya Decentralisatie Besluit tahun 1905, gewesten diberi otonomi dan dibentuk Dewan Daerah. Selain itu juga dibentuk gemeente (kotapraja) yang otonom, yaitu Pekalongan, Tegal, Semarang, Salatiga, dan Magelang.

Sejak tahun 1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki Dewan Provinsi (Provinciale Raad). Provinsi terdiri atas beberapa karesidenan (residentie), yang meliputi beberapa kabupaten (regentschap), dan dibagi lagi dalam beberapa kawedanan (district). Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 5 karesidenan, yaitu: Pekalongan, Jepara-Rembang, Semarang, Banyumas, dan Kedu.

(ulasan diatas dikutip dari mediawidya.blogspot.com)

Peta Jawa Tengah Pekalongan-Solo (Surakarta)-Lasem(Rembang)
        Peta lokasi Pekalongan-Surakarta(Solo)-Rembang(Lasem)

Proses dan rute perjalanan produksi batik 3 negri Tjoa,Solo sbb:

1.       Keluarga tjoa mengirim kain ke Lasem untuk di warnai merah terlebih dahulu
2.       Setelah itu dikirim ke solo, untuk di kontrol kwalitas pewarnaan merahnya dari lasem
3.       Setelah dari Solo, dikirim lagi ke Pekalongan untuk diwarna biru atau warna yang  lain selain merah Lasem
4.       Baru dikirim ke Solo lagi untuk di proses akhir( coklat sogan )sebelum dijual ke pasar di seantero negeri.

Proses melalui 3x lorotan artinya 3x penutupan malam/lilin pada kain batik 

(ulasan diatas dikutip dari journalofbatik/batik3negri/feb2014)

Jarak tempuh Pekalongan-Solo 192 km
Jarak tempuh Solo-Lasem 149km
Jarak tempuh Lasem-Pekalongan 210km

Bisa dibayangkan begitu jauhnya jarak tempuh antara ke 3 kota,belum lagi kondisi berkendaraan pada waktu lalu mungkin belum se-nyaman/semudah zaman sekarang.Belum lagi melewati banyak pos penjagaan karena mengingat masih dalam masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Sulit dan susah itu sudah pasti...tapi demi menghasilkan karya yang menawan...  para pembatik rela meluangkan waktu,tenaga dan dana dengan segala keuletan dan kegigihan yang besar.Dan pastinya dari segi usaha/bisniss ini merupakan suatu hal yang menjanjikan dan bukan hanya pemenuhan hasrat karya semata.Peluang begitu besar dilihat dari mata para perajin batik ini,sehingga batik 3 negri sangat populer di masa lalu.
 

Batik 3 negri Tjoa dinilai berharga dan tergolong mahal pada zaman dulu,walau terbilang tinggi dalam nominal tetapi batik 3 negri Tjoa diminati kaum hawa pada waktu itu.Disamping motifnya yang cukup rumit dan menarik juga perpaduan warna -nya pun exclusive.

Unsur Warna Batik 3 Negri

Masing-masing daerah mempunyai keistimewaan warna yang tidak didapati di daerah lain.Rahasia akan metode pencampuran warna menjadi kan masing-masing wilayah mempunyai produk unggulan warna.  Warna -warna batik yang dihasilkan dibuat dari bahan dasar pewarna alam dan bukan sintetik/kimia. Berbeda dengan masa sekarang dimana teknologi warna sangat mudah didapat dan canggih.

Unsur lain yang menunjang warna menjadi lebih cantik adalah unsur air yang digunakan.Menurut informasi yang tersedia air di masing-masing kota mempunyai kandungan istimewa terhadap pencampuran warna,sehingga warna yang dihasilkan sangat baik.Hal ini pun yang mendasari perbedaan warna pada tiap kota.

contoh unsur pewarnaan alam dan kimia:


pewarna batik alami



pewarnaan dari alam berupa tumbuhan dan buah-buahan

 
 kiri dan kanan perbedaan materi pewarnaan

pewarna kimia

Pewarna Alam Batik

Pekalongan sejak dulu dikenal dengan warna indigo alami yang dibuat dari daun tarum.indigofera,Lasem terkenal dengan merah darah ayam-nya (abang getih pitik)dari akar mengkudu dengan campuran lainnya dan Solo dengan keunggulannya di warna coklat kekuningan atau disebut sogan.

Pada dasarnya hampir seluruh jenis tumbuhan dapat menghasilkan zat warna alami yang dapat digunakan pada proses pewrnaan batik (Natural dyeing). Zat warna tersebut dapat diambil dari akar, batang kulit, bunga, dan daun.
indigo:

Tarum atau Indigofera sp. digunakan pada pewarnaan biru pada proses batik, bagian tumbuhan ini yang digunakan adalah pada daunnya.

 

Merah darah ayam:
Mengkudu atau Morinda citrifolia digunakan pada pewarnaan merah pada proses batik, bagian tumbuhan ini yang digunakan adalah pada kulit akar.
 
 
Sogan coklat kekuningan:
Soga atau Peltophorum pterocarpum dapat digunakan sebagai zat warna yang memunculkan warna kuning pada kain batik, bagian yang digunakan yaitu pada kulit batang.

 
 

Akasia atau Acacia catecu dapat digunakan sebagai pewarna alami pada batik yang depat menghasilkan warna coklat, sedangkan bagian tanaman yang digunakan adalah pada kayu kerasnya






  Batik 3 Negri Tjoa,Solo

Solo/Surakarta adalah tempat pembatik Tjoa bermukim.Tjoa Giok Tjiam Lahir dari keluarga peranakan dan memulai usaha batiknya di tahun 1910.Silsilah keluarga ini bisa kita lihat sebagai berikut:
 
 (info Google)

Tjoa Giok Tjiam menikahi Liem Netty 1905 (pencetus awal 3 negeri)
punya anak 2 orang (laki-laki semua)

1. Tjoa Tjoen Kiat (1910)
2. Tjoa Tjoen Tiang( 1914)

Tjoa Tjoen Kiat (lahir 1910) menikah punya anak: 3 orang

 1. Tjoa Siang Gwan
2. Tjoa Tjing Nio (Ny Sie Djien Nio)
3. Tjoa Siang Swie (masih produksi batiknya)

Tjoa Tjoen Tiang (lahir 1914) punya anak: 3 orang

1. Tjoa Siang Hing
2. Tjoa Siang Lie menikah dg Indriani anak 1
3. Tjoa Siang Liat

Keluarga Tjoa Giok Tjiam dahulu tinggal di daerah sorogenen solo, memulai usahanya bukan dengan batik. Keluarga Tjoa Giok Tjiam memiliki  pabrik pembuat lilin untuk kebutuhan pemujaan klenteng, dan kebutuhan lilin untuk penerangan pada masa itu saat belum adanya listrik seperti sekarang ini. Keluarga Tjoa memulai awal pembuatan batik 3 negeri sekitar tahun 1907, beliau meninggal dan dimakamkan di bong kentingan solo (sekarang jadi kampus UNS) setelah bong dibongkar untuk didirikan UNS, makam Tjoa Giok Tjiam dibongkar dan diperabukan di larung ke lautan.

(ulasan diatas dikutip dari journalofbatik/batik3negri/feb2014)

 Produk  Batik Tjoa,Solo

1.Batik jarit kemben:

Jarit/kain panjang yang digunakan untuk menutupi dada berukuran +/- 51x250cm





2.Batik sarung:

Kain sarung biasanya berukuran lebih pendek daripada kain panjang/kain lepasaan ukuran +/-105x200cm dan umunya sudah dijahit tepiannya jadi bisa langsung digunakan.






3.Ikat kepala

Ikat kepala biasa digunakan oleh pria pabila bepergian/kerja di area terbuka atau ladang dengan ukuran +/-108x108cm berbentuk kubus


 


4.Kain Panjang 

Kain yang biasa dipakai pada acara khusus/sehari-hari dengan ukuran +/- 105x250cm





Kemasan Produk Batik 3 Negri Tjoa dan Artikel Penunjangnya.


Bentuk label sebagai tanda produk asli batik 3 negri Tjoa


Bentuk kemasan berupa kardus putih bertulisan biru 

 
 Tempelan kertas sablon tanda otentik produk Tjoa Solo

Corak Batik 3 Negri Tjoa,Solo

Corak batik 3 negri Tjoa adalah sebagai berikut:

1.Kain pagi/sore
Selembar kain dengan 2 sisi motif yang berbeda.Jenis ini sangat umum digunakan karena keterbatasan kain katun mori (bahan dasar kain batik) pada masa lampau (kain mori masih diimport dari tiongkok/belanda.Jadi memaksimalkan 1 kain untuk 2 fungsi.

Peletakan motif pagi/sore pun tidak sama,sisi kiri dan kanan berlawanan arah.Pagi/sore banyak ditemukan pada pola kain pembatik peranakan di pesisir utara Jawa.

Perbedaan pagi/sore pesisiran dengan 3 negri,pesisiran menggunakan 2 warna yang berbeda sedangkan 3 negri Tjoa senada warna/1warna.

 batik pesisir pagi sore







batik pagi/sore 3 negri Tjoa

2.Sido Mukti Variasi

Sido mukti Tjoa agak berbeda dengan sido mukti pada umumnya di Solo.Perbedaannya terletak dari warna yang cenderung lebih terang/coklat kekuningan dengan perpaduan buketan bunga,kupu-kupu dan lainnya.Dasar kain tetap berpegang pada pakem sido mukti klasik hanya tepian kain diberi motif bunga jalar sehingga menambah kecantikan dari sido mukti Tjoa.


Sidomukti 3 negri Tjoa


Sidomukti Solo

3.Motif Tumpal
Kain 3 negri Tjoa dengan motif  tumpal banyak dijumpai dalam bentuk kain sarung yang sudah dijahit.Kain sarung sering dijumpai didaerah pesisir Jawa terutama di wilayah seperti Lasem, Pekalongan, Cirebon,Batang,Semarang  dan seterusnya.Disamping itu penggunaanya dirasa cukup praktis dibandingkan dengan kain panjang.

Banyak dari peranakan yang menggunakan kain sarung terutama untuk pakaian sehari-hari.Kecuali pada acara resmi barulah memakai kain panjang.

Motif /corak kain sarung senada dan tidak ada perbedaan kecuali pada bagian tumpalnya/kepala kain.

tumpal dlorong buketan 3 negri Tjoa

Tumpal dlorong buketan 3 negri Tjoa


Tumpal pasung cepet 3 negri Tjoa pengaruh dari batik pesisir Jawa (Lasem)

4.Alas-Alasan Hewan dan Bunga
Alas=Hutan dalam bahasa Jawa,3 negri Tjoa banyak menggunakan corak ini,hal ini yang membuat batik 3 negri terkesan mewah dan penuh dengan torehan karya.Pada umumnya hampir seluruh dari produksi 3 negri Tjoa ber-corak seperti ini.

Alas-alasan terbagi dalam beberapa kategori yaitu alas-alasan unggas/hewan hutan/liar/hewan kandang (peliharaan) dan bunga.


Alas-alasan burung,kupu dan bunga



Alas-alasan gajah,bangau,burung walet,kupu,burung merak

5.Motif Variasi, Lerengan,Sekar Jagat Ceplokan

Motif variasi 3 negri Tjoa menurut pendapat saya adalah pengembangan dari kreasi dan variasi produk.Dengan memadukan motif original Solo atau memadukan motif-motif baru untuk menambah variasi batik yang mereka miliki.

Karena persaingan cukup besar dalam dunia batik pada masa itu kemungkinan besar itulah yang mendorong batik Tjoa untuk terus berinovasi,berkreasi dan ciptakan corak yang belum pernah beredar.Sehingga mereka mempunyai produk unggulan yang tidak dimiliki oleh pembatik lain,tetapi tanpa meninggalkan ciri khas dari 3 negri Tjoa.


 Lereng variasi bunga


motif lereng variasi buketan bunga

motif lereng variasi

6.Motif Galaran,
Motif galaran adalah motif berupa tanahan berbentuk labirin kotak atau labirin bundar/ukel yang memenuhi dasar kain.

Motif ini lazim ditemukan pada 3 negri Tjoa di era tahun yang lebih muda sekitar tahun 1960-70 an

Motif galaran sangat rumit dan menarik dan pada umumnya berwarna coklat kekuningan.Saya pernah bertanya kepada beberapa pembatik mengenai motif galaran,menurut mereka motif galaran jika diperhatikan membuat kain terlihat menonjol atau mempunyai dimensi dan tidak datar.

Motif galaran pun sangat jarang dijumpai pada batik lain dari daerah lain.Beberapa batik yang menggunakan galaran memang kebanyakan dari Jawa Tengah.


motif galaran labirin kotak

motif galaran labirin bundar/ukel

Diatas adalah contoh dari beberapa corak yang umum ditemukan pada batik 3 negri Tjoa.Tetapi corak batik tidak hanya berhenti disitu,corak terus berkembang seiring dengan kebutuhan dan zaman.Mungkin masih ada corak lain yang belum ditemukan mengingat batik ini termasuk batik antik/tua yang keberadaanya sudah mulai susah ditemukan apalagi dalam kondisi baik.

Ragam Warna Batik 3 Negri Tjoa,Solo:

Warna kecoklatan:

warna coklat bahan dasar alam
warna coklat terang(kekuningan)

Warna kecoklatan adalah warna dasar pada kain batik tersebut yang menjadi latar/tanahannya,pada awal pengerjaan batik warna yang dipakai adalah warna alam dan bukan kimia.Karena warna tersebut dari alam konsistensi warna-pun terkadang lebih pekat atau lebih muda tergantung proses bahan baku yang tersedia.Salah satu unsur terbesarnya adalah alam dan kondisinya.

















 


Warna langka:

Warna coklat kopi tutung, kopi tutung artinya kopi hangus dalam bahasa Sunda,jenis warna ini coklat pekat cenderung gelap kehitaman.Kopi tutung banyak diminati hingga sekarang menjadi komoditi kolektor batik dengan harga yang fantastis.

 
 batik kopi tutung 2 negri Tjoa
  
Warna unggu

Warna unggu,termasuk dalam kategori warna kurang favorit pada jaman dulu,disamping susah menghasilkan warnanya penjualannya pun tidak se populer warna lainnya.Produksi warna ini tidak banyak karena kurang diminati pembeli.Karena keterbatasan produksi maka warna unggu ini sangat langka dan susah didapat.Unggu salah satu warna yang diburu kolektor batik tua.

unggu pasiran buketan bunga
 
Warna hijau

Warna hijauwarna hijau juga termasuk dalam kategori warna yang kurang penting dalam daftar 3 negri Tjoa,sehingga kondisinya bisa dikatakan sama dengan warna unggu.Tetapi sebagai pedagang mungkin mereka mengupayakan variasi warna dan membiarkan pembeli yang menentukan apakah ini bisa diterima oleh pasar.


hijau  pasiran buketan bunga


Warna Spesial/Pesanan Khusus:
Warna kelengan biru tua-hijau tua dasar putih




 kelengan biru tua-hijau tua tanahan putih alas-alasan unggas dan buketan bunga cantingan halus era tahun 1960-70an

warna hijau muda galaran

 


 galaran ukel hijau pastel dengan alas-alasan unggas dan bunga warna pastel,cantingan halus era tahun 1960-70an

 warna 3 negri hanya 2 warna



nama pemesan pada pojok atas kiri



 batik 3 negri 2 warna pesanan khusus cantingan halus era tahun 1920-40an


Hijau variasi biru dan coklat serta cplokan




nama pemesan di pojok bawah kiri,warna hijau daun variasi coklat,unggu dan biru,cantingan halus era tahun 1960-70an

Warna yang begitu cantik dengan corak dan motif tanahan yang penuh menandakan pengerjaan batik yang detail dan memakan waktu yang cukup lama.

Hiasan Pada Tepi Kain 3 Negri Tjoa,Solo

Tepi kain kain adalah pembatas dari akhir dari corak kain tersebut.Tepi terbagi 2 kanan dan kiri kain serta atas dan bawah kain.


hiasan tepi samping kiri dan tepi bawah

Seret biasanya terletak di atas dan bawah kain dan bukan di sisi kanan dan kiri badan kain pada posisi kain direntang memanjang

Pada awalnya tepi kain hanya merupakan garis sederhana biasa dikenal dengan sebutan seret/bentuk geometris dan segitiga (untuwalang)

kain tanpa seret

 kain dengan seret (garis tegak lurus)

kain dengan tepi segitga (untuwalang)

tepi kain bentuk seret pada kain 3 negri Tjoa,Solo

Tepi kain pada batik Tjoa,Solo sangatlah elaborate/tergolong rumit.Pada khususnya jenis tepian kain seperti ini banyak dijumpai para pembatik peranakan baik Belanda atau Tionghoa di daerah pesisir Jawa.Hal ini dipengaruhi oleh budaya dan religi setempat.

Tjoa masih mempertahankan motif tepi seret (garis tegak lurus) sebelum di tambahkan dengan badan tepian kain berupa bunga jalar dan lainnya.Kemewahan dari tepian kain ini sungguh luar biasa bagusnya,hanya dengan melihat tepian kain ini kita pun merasa takjub akan detail corak ragam, yang boleh dibilang bukan inti dari selembar kain.

Tetapi tanpa keindahan tepi kain ,rasanya batik tersebut tidak bisa dibilang sempurna.Begitu polos dan tidak terlihat elegant.Tepian kain walaupun hanya sebatas tepi tetapi merangkum dari seluruh isi badan kain sehingga selembar kain itu selesai dan cantik dan siap pakai.

Tepian kain rumit Tjoa hanya bisa didapati pada era lama kain batik Tjoa.

tepi kanan kiri kain era tahun 1930-40an

tepi kain kiri dan bawah kain era 1930an

Pada tepi bagian kiri dan kanan tidak ditambahkan seret lagi pada batik Tjoa melainkan beberapa susunan tepi sebagai penghias akhir kain.

Mungkin karena pada bagian ini adalah bagian yang terlihat jelas sebagai akhir kain jika dipakai dan ini pun hanya terdapat pada jenis kain panjang/jarit dan bukan pada sarung karena kain sarung sudah dalam bentuk siap pakai.Sehingga tepian kanan dan kiri kain tidak didapati pada kain sarung.

peranakan Belanda dengan kain panjang,perhatikan tepi kainnya


peranakan Tionghoa menggunakan kain sarung,perhatikan tidak terlihat tepian kain samping dan terlihat kain dilipat kedalam.

Contoh tepian badan kain kiri 3 negri Tjoa,Solo

 era tahun 1920-40an

 era tahun 1950-60an

 era tahun 1950-60an

 era tahun 1960-70an

era tahun 1960-70an

Jenis Bunga/Hewan/Lainnya Pada Kain
Hewan,bunga dan corak lainnya pada batik 3 Negri Tjoa,Solo memang mempunyai corak tersendiri dan berbeda dengan batik pesisir pada umumnya

Pengerjaan rupa hewan dan bunga/buah di era yang lebih lama terlihat lebih detail dan halus,dibandingkan dengan tahun yang lebih muda.Mungkin dikarenakan situasi dan kondisi yang berbeda pada masing-masing era pembuatan.

Corak hewan di era tahun 1950 kebawah:
 
















Corak hewan di era tahun 1950 keatas:












Tahun 1960-70an Tjoa Siang Gwan dan Siang Swie menggeluarkan edisi galaran burung merak/phoenix yang terlihat detail dan cantik.Motif ini termasuk dalam kategori langka karena keberadaan-nya sulit didapati, terutama apabila dalam kondisi baik,warna cerah tidak beladus dan tidak cacat.











Corak bunga pada era tahun 1950 kebawah:








corak bunga pada era tahun 1950 keatas:





Terlihat adanya sedikit perbedaan pada motif bunga dari era tahun yang lebih tua dan eran tahun yang lebih muda.

Siganture/ Tanda Pengenal/Initial Pembatik Pada Batik 3 Negri Tjoa,Solo 

Tanda pengenal diatas sudut kiri kain pertama kali diperkenalkan oleh pembatik peranakan Belanda.Gunanya adalah sebagai identitas si produsen kain batik tersebut.

Kebiasaan membubuhkan tanda pengenal menjadi tren dikalangan pembatik pada masa lalu.Batik pesisiran rata-rata mempunyai tanda pengenalnya.

batik pesisir dengan tanda pengenal :

tanda pengenal pada batik pesisiran

Tjoa pun memiliki tanda pengenal ini,karena 3 generasi Tjoa adalah pembatik maka dalam silsilah batik Tjoa terdapat beberapa nama pada kain yang di produksinya

Tjoa Giok Tjiam

 Tjoa Tjoen Kiat



Tjoa Tjoen Tiang 

Tjoa Siang Gwan


 Sie Djin Soen

Tjoa Siang Swie

Tjoa Siang Hing

Adapun istilah yang dikenal di tanah Parahyangan yaitu 3 negri Tjoa dengan initial T.T.T atau suka dibaca totot karena terkadang titik terlihat seperti o .T.T.T kependekan dari Tjoa Tjoen Tiang, batik dengan initial ini adalah batik yang tergolong halus dan detail dalam pengerjaannya.Kebanyakan dari jenis ini adalah batik dengan tingkat pengerjaan yang rumit.

T.T.T




Cukup rumit bukan....kemungkinan initial ini bisa diartikan sebagai salah satu produk batik dengan kualitas prima keluaran Tjoa Tjoen Tiang.

Selain tanda pengenal didapati pula pada ujung kain, ada beberapa initual tambahan antara lain sbb:

huruf T disudut bawah kain (kurang diketahui artinya)

 seperti aksara tionghoa dengan lingkaran

BLK diasumsikan belakang dalam artian agar si pemakai tidak menggunakan kain terbalik dikarenakan batik tulis dengan kualitas baik memang amat susah untuk membedakan depan dan belakang.

Tanda pengenal pembatik hanya digunakan sampai akhir tahun 1970an dan seterusnya hanya dituliskan dengan tulisan Batik Tulis pada sisi kiri pojok atas kain ,untuk menyatakan kain ini benar adanya kain batik tulis dan bukan cap/printing ,contoh sbb:


Bila kita sudah mempelajarinya dan menyukai motif corak dari batik 3 negri Tjoa,jika diperhatikan pada gambar diatas maka anda sudah dapat menebak si pembuat/produsen dari batik tersebut.

Alasan mengapa sampai harus dibubuhi batik tulis karena tahun 1970 an batik cap sangat merebak dipasaran (booming) dikarenakan harga yang lebih murah dan cepat dalam produksinya.

Proses Warna Baru di Tahun 1950an
Diperkirakan sekitar tahun 1950an keluarga Tjoa membuat sendiri proses pewarnaan  batik 3 negri-nya di Solo, tanpa harus berpindah lokasi.

Warna yang dihasilkan pun lebih bervariasi karena sebagian proses warna menggunakan warna sintetis/kimia  yang sudah tersedia pada saat itu.Warna baru berarti bertambah varian koleksi batik mereka.

Berjalan atau tidaknya warna baru?....merupakan jawaban yang mereka dapati dalam memasarkan batik. Ternyata warna hijau,unggu dan biru tidak sesuai seperti yang mereka harapkan karena penjualannya tidak sebagus unsur coklat klasik.Apapun dalam bentuk warna coklat pasti laris,mungkin dikarenakan warna coklat adalah warna sejatinya batik.Sehingga produksi warna unggu,hijau dan biru tidaklah banyak.

Pada kenyataanya unsur warna unggu dan biru tergolong warna yang susah didapati pada waktu itu sehingga termasuk warna langka.

Pada saat ini menjadi incaran bagi para kolektor batik karena jumlah yang sedikit dan tidak umum.

Hal Yang Tidak Lazim


Hal yang tidal lazim ditemui pada salah satu kain sarung Tjoa Siang Swie,perhatikan kupu-kupu terbalik dalam peletakannya.Tidak lazim pastinya,tetapi perihal tidak lazim banyak di temui di beberapa jenis batik pesisiran.Sungguh suatu kelangkaan.....mempunyai maknakah..... mungkin ya.....kesalahan kah.....saya berpendapat tidak,karena semua proses melalui kualiti kontrol yang ckup ketat sebelum dipasarkan.



 peletakan kupu-kupu yang terbalik


Pemasaran Batik 3 Negri Tjoa,Solo:

Tiga generasi kalau kita lihat penjelasan diatas menghasilkan batik yang luar biasa bagus dan menawan.Masing-masing generasi mempunyai ciri khas tersendiri bila dilihat dari corak dan ragam.Tetapi pakem batik Tjoa terus dilestarikan dan tidak berubah walaupun sudah melalui 3 generasi.

Batik Tjoa Solo bisa dikategorikan sebagai batik 3 negri yang cukup sukses dalam memasarkan produknya,ini dibuktikan dengan banyaknya peminat akan batik 3 negri ini terutama di wilayah Jawa Barat.Jangkaunnya cukup luas,hampir ke seluruh pelosok Jawa.Mungkin karena coraknya yang menurut pengamatan saya cukup berani dan kreatif.

Produksi 3 negeri banyak dipesan untuk wilayah Jawa Barat, seperti Garut, Cimahi, Bandung, Cirebon, Karawang sampai Batavia. Proses pengerjaan dahulunya pabriknya ada di Sorogenen Solo.

“Tiga negeri penting sekali di sini. Mulai dari upacara ngalahiraken (kelahiran), 7sasi/7 bulanan, nyimpal (menggendong bayi pertama), nyanda’ semuanya menggunakan kain 3 negeri. Berbagai peristiwa kelahiran di kampung kami diwarnai dengan tiga negeri./kain angkok. Saserahan orang Cigondewah yang mendapat suami Cigondewahpun akan mendapat kain 3 negeri. Menurutnya, orang kampung sini sangat menghargai  pihak wanita sehingga ketika menikah selain dibawakan pakaian, bumbu, ternak, uang, emas, dan kambing

“Kain tiga negeri masuk sebagai tanggeyan (babawaan) seperti saserahan di tanah jawa.  Di Cigondewah islam dan budaya bersatu sangat erat. Di sinilah islam disebarkan bersama dengan budaya. Tidak heran jika di Cigondewah banyak yang memiliki kain tiga negeri rata-rata 1 lemari. Anggota keluarga yang meninggal akan ditutup dengan kain 3 negeri terbaik malah bukan dari kain parahyangan. Hingga memiliki motto, gadis sunda yang memakai kain 3 negeri akan: tiharep siep (aura), tigigir lengik (siluet tubuh yang indah) dan titikang lenjang (terlihat semampai)”

(ulasan diatas dikutip dari journalofbatik/batik3negri/feb2014)






Sebagian besar generasi ke 3 keluarga dari pembatik 3 negri Tjoa diperkirakan berhenti produksi di tahun 1970-awal 1980an,kecuali Tjoa siang Swie yang masih berjalan.Banyak kemungkinan antara lain ekonomi per-batik-an dimasa orba yang kurang baik,melimpahnya batik cap dengan harga yang murah,dan persaingan ketat yang memungkinkan batik ini kalah bersaing dengan batik murah lainnya,sehingga produksi terpaksa dihentikan.Kemungkinan lain adalah mereka beralih profesi dan faktor lain yang tidak diketahui umum.

Memang tidak ada pernyataan jelas kapan dan mengapa sebagaian keluarga pembatik Tjoa ini berhenti produksi.Yang tersisa hanyalah kain hasil karya keluarga Tjoa yang masih dapat dinikmati oleh masyarakat pada masa kini walaupun keberadaan kain pada umumnya bekas/sudah terpakai.

Dunia fashion sekarang mengubah batik 3 negri menjadi komoditi anyar dan inovatif antara lain seperti tas,dompet,sepatu bahkan baju siap pakai,sehingga terkesan bahwa batik 3 negri Tjoa akan bertahan terus ada ditengah persaingan batik yang ketat.


 

 



 
 (info google)

Ini membuktikan bahwa kreasi akan corak dan ragam dari batik 3 negri Tjoa,Solo memang diminati dan disukai pasar sejak 1910 Tjoa Giok Tjiam memulai usahanya sampai saat ini .Ditangan para designer muda yang berbakat,kain-kain 3 negri ini diubah menjadi komoditas yang menjanjikan.Para pecinta batik sangat menyukai produk 3 negri Tjoa karena keelokan warna,ragam dan corak.Seandainya saja para pelopor batik 3 negri Tjoa masih bisa menyaksikan hasil karya mereka bisa digubah menjadi bentuk lain selain kain panjang.

Bangga Batik Indonesia
Sungguh suatu karya yang patut diacungkan jempol karena batik ini masih dicari dan disukai orang di jaman sekarang.Dunia perbatikan Indonesia merasa bangga memiliki karya dari seorang maestro batik yang begitu dengan tekunnya dan dedikasi yang tinggi menciptakan karya yang indah.....batik 3 negri Tjoa,Solo


Demikian pemaparan singkat mengenai batik 3 negri keluarga Tjoa,Solo, semoga bermanfaat untuk kita semua.Terima kasih untuk info google,bersama kita kembangkan kecintaan akan warisan budaya yang tidak ternilai.Mohon maaf apabila ada salah penafsiran arti dan kata.

Nantikan kembali pada edisi selanjutnya masih di batik Indonesia batik jati diri bangsa.

Salam hangat.

Dave Tjoa

KUNJUNGI BLOG BERJUALAN BATIK LAWAS KAMI DI :batikantikbatiklawas.blogspot.com